Tips Mengatasi Dampak Buruk Kebanyakan Duduk

Masyarakat urban lekat dengan gaya hidup sedentarian yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan duduk. Dalam sehari sekitar 8-12 jam habis dengan duduk saat bekerja, dalam kendaraan, atau menonton televisi. Dampak buruk terlalu banyak duduk tak bisa diatasi hanya dengan olahraga 20-30 menit sehari.

Dikutip dari Web MD, risiko penyakit degeneratif meningkat seiring lamanya duduk. Hal ini berbeda dengan berdiri yang memaksa beberapa otot bekerja lebih keras untuk mempertahankan postur tubuh. Berdiri juga memudahkan sistem metabolisme bekerja. "Hal ini berbeda dengan duduk yang menyulitkan sistem metabolisme bekerja," kata periset tentang peningkatan risiko penyakit pada gaya hidup sedentary Aviroop Biswas. 

Meski tak bisa diatasi, dampak akibat terlalu banyak duduk bisa ditekan seminimal mungkin. Biswas menyarankan untuk berjalan-jalan sekitar 1-3 menit tiap duduk setengah jam. Hal serupa juga harus dilakukan saat sedang menonton televisi. Biswas juga menyarankan perlahan mengurangi lamanya duduk sekitar 15-20 menit sehari. 

Risiko kebanyakan duduk sebetulnya bukan hanya jantung, diabetes, dan hipertensi. Kemampuan otak berisiko turun hingga menjadi layaknya pasien demensia. Risiko lainnya adalah terbentuk gumpalan dalam pembuluh darah kaki yang disebut deep vein thrombosis (DVT). DVT bisa berbahaya jika sampai lepas dan masuk sistem organ lainnya. Beberapa orang menunjukkan gejala DVT berupa kaki yang bengkak dan sakit, namun pada kasus lain tidak menunjukkan tanda khusus. 

Kesehatan mental juga berisiko terganggu akibat terlalu lama duduk. Selain mengurangi waktu bersosialisasi, kebanyakan duduk juga menyebabkan seseorang lebih mudah gelisah. Hal ini berisiko mengganggu dan mengurangi waktu istirahat, yang akhirnya bisa menurunkan produktivitas.

 

Publish:| 2018-09-18| 02:02:50 . Administrator|