Ini yang Terjadi dalam Tubuh Saat Anda Makan Mi Instan Terlalu Banyak

Karena proses pengolahannya yang kurang tepat dan kandungan gizinya yang tidak memadai, mi instan menjadi salah satu jenis makanan yang tidak dianjurkan untuk dikonsumsi secara berlebihan.

Namun nyatanya masih banyak yang tidak percaya dengan klaim ini. Untuk membuktikannya, beberapa waktu lalu, tepatnya di tahun 2011, beredar sebuah video tentang kondisi usus saat seseorang mengonsumsi mi instan.

Percobaan ini dilakukan oleh Dr Braden Kuo dari Massachusetts General Hospital. Ia menggunakan kamera seukuran pil untuk melihat apa yang terjadi di dalam perut dan sistem pencernaan seseorang setelah makan mi instan.

Dalam video itu terlihat bahwa ketika mi instan sudah berada di dalam perut, bahan makanan ini masih tetap utuh, bahkan hingga dua jam setelahnya.

Menurut Kuo, ini akan membebani sistem pencernaan yang bersangkutan karena dipaksa bekerja selama berjam-jam untuk mencerna makanan ini.

Kedua, ketika makanan berada di dalam saluran pencernaan untuk waktu yang lama, ini juga akan mempengaruhi penyerapan nutrisinya. Padahal mi instan atau ramen sama-sama bernutrisi rendah, belum lagi bahan makanan ini mengandung banyak zat aditif.

"Zat aditif ini akan berada di dalam perut dalam waktu lama, dan kita tidak pernah tahu apa pengaruhnya bagi kesehatan kita. Kalau dipikir-pikir dengan akal sehat, ya ini tidak akan baik," kata pakar kesehatan alami dari AS, Dr Joseph Mercola dalam situsnya, mercola.com.

Mercola juga menyoroti TBHQ, pengawet yang digunakan dalam bumbu mi instan. TBHQ dikenal luas mampu mencegah oksidasi lemak dan minyak sehingga mi instan awet disimpan lama.

Namun ia mengingatkan bahwa TBHQ terbuat dari bahan kimia sintetis. Hanya saja sejauh ini tidak disepakati dengan pasti berapa kadar TBHQ yang aman untuk dikonsumsi. Namun A Consumer's Dictionary of Food Additives mengatakan hanya satu gram TBHQ saja dapat mengakibatkan sejumlah risiko kesehatan, di antaranya:

- mual dan muntah
- telinga berdenging (tinnitus)
- delirium atau mengigau saat tidur
- lemas
- pingsan

Dengan asumsi mi instan hanya dikonsumsi sesekali. Bayangkan apa dampaknya pada orang-orang yang begitu menggemari mi instan dan mengonsumsinya setiap hari atau secara berlebihan.

Selain sodium (garam) dan TBHQ, secara umum dalam satu kemasan mi instan juga terkandung bahan lain yang tak kalah membahayakan. Pertama, mi instan yang beredar di Asia terbuat dari tepung yang digoreng sampai kering (deep fried). Padahal metode seperti ini menggunakan minyak kelapa dan garam, termasuk monosodium glutamate (MSG) dan gula.

MSG dalam mi instan sendiri sudah cukup jadi alasan untuk menghindari mi instan. Disebut sebagai eksitotoksin, ini berarti MSG mampu membuat sel-sel saraf 'kegirangan' secara berlebihan hingga mengakibatkan kerusakan bahkan kematian, lalu bisa memicu penurunan dan kerusakan fungsi otak.

Risiko kesehatan lain yang mungkin terjadi akibat konsumsi MSG secara berlebihan adalah penyakit Alzheimer dan Parkinson.

"Belum lagi MSG juga kerap digunakan untuk menggemukkan tikus yang dipakai dalam percobaan ilmiah. Dengan kata lain MSG adalah obat penggemuk yang sempurna, sehingga jika Anda ingin memiliki tubuh yang ideal dan sehat, hindari MSG sama sekali," pesan Mercola.

Prevent Disease juga melaporkan, di bulan Juni 2012, Korea Food and Drug Administration menemukan kandungan Benzopyrene (senyawa yang dapat memicu kanker) pada enam merek mi instan yang beredar di Korea. Meskipun KFDA menyatakan kadar Benzopyrene dalam produk-produk tersebut kecil, namun akhirnya di bulan Oktober 2012 dilaporkan adanya permasalahan kesehatan dari konsumen yang membuatnya ditarik dari pasaran. (detik/ml)

Publish:| 2017-06-26| 23:05:03 . Administrator|